Taksidermi: Seni Abadi "Menghidupkan" Kembali Hewan
Pernahkah kalian melihat
harimau yang tampak gagah di museum, atau burung elang yang bertengger indah di
ruang tamu atau buaya kecil yang ada di laboratorium Biologi kita? Hewan-hewan
tersebut tidak hidup, melainkan hasil dari seni taksidermi. Bagi
orang awam, istilah ini mungkin terdengar asing, namun karyanya sangat sering
kita jumpai.
Taksidermi Buaya, koleksi Laboratorium Biologi SMPK Santa Clara
Secara bahasa, taksidermi
berasal dari bahasa Yunani yang berarti "penataan kulit".
Sederhananya, taksidermi adalah seni dan ilmu mengawetkan tubuh hewan mati agar
tampak seolah-olah masih hidup.
Banyak orang mengira
taksidermi adalah proses mengisi penuh tubuh hewan utuh dengan kapuk atau
pasir. Faktanya, prosesnya jauh lebih rumit dan membutuhkan keahlian tinggi.
Beginilah proses pembuatan taksidermi secara umum:
·
Pengulitan: kulit hewan dilepaskan dengan sangat
hati-hati dari tubuhnya.
- Pembersihan: daging, lemak, dan tulang
dibersihkan total agar kulit tidak membusuk.
- Pengawetan: kulit diberi bahan kimia khusus
agar tahan lama dan bebas hama.
- Pemasangan: kulit dipasang pada manekin buatan
yang menyerupai bentuk asli tubuh hewan.
- Finishing: seniman memasang mata palsu dan
merias detail wajah agar ekspresinya natural.
Taksidermi bukan sekadar pajangan dinding. Seni ini dilakukan karena memiliki
beberapa fungsi penting antara lain:
- Edukasi: membantu masyarakat melihat hewan
langka secara dekat.
- Sains: menjadi bahan penelitian biologi
dan pelestarian sejarah alam.
- Kenangan: mengabadikan hewan peliharaan
kesayangan yang telah tiada.
Saat ini, taksidermi modern
sangat ketat dan diatur oleh hukum. Seniman taksidermi profesional hanya
menggunakan hewan yang mati alami atau legal, bukan hasil buruan liar. Lewat
kombinasi sains dan seni, hewan-hewan ini "hidup" kembali untuk menginspirasi
kita.
Kepala buaya dan ular, taksidermi koleksi Laboratorium Biologi SMPK Santa Clara
Hampir semua jenis hewan yang
memiliki kulit atau eksoskeleton (rangka luar) dapat dijadikan obyek
taksidermi. Namun tingkat kesulitan dan teknik yang digunakan akan sangat
berbeda untuk setiap kelompok hewan. Mamalia merupakan obyek taksidermi yang
paling populer karena struktur kulitnya yang kuat. Beberapa contoh mamalia
ukuran besar yang sering dibuat taksidermi antara lain rusa, beruang, macan dan
kambing hutan. Sementara mamalia berukuran kecil yang sering dibuat taksidermi
antara lain rubah, kelinci, tupai.
Burung sangat diminati karena
keindahan bulunya. Taksidermi burung membutuhkan ketelitian tinggi agar bulunya
tidak rontok saat pengulitan. Hewan melata memiliki kulit bersisik yang
cenderung mengerut dan kaku setelah diawetkan. Prosesnya membutuhkan cairan
kimia khusus agar kulit tetap elastis, seperti buaya yang pernah kalian lihat
wujudnya di laboratorium biologi kita. Bagaimana.....sudahkah bertambah wawasan
kalian tentang taksidermi?.
Comments
Post a Comment